錯誤
  • Unable to load Cache Storage: database
  • Unable to load Cache Storage: database
  • Unable to load Cache Storage: database
  • Unable to load Cache Storage: database
  • Unable to load Cache Storage: database
  • Unable to load Cache Storage: database

道不远人 JALAN SUCI TIDAK JAUH DARI MANUSIA

列印
PDF

Oleh: Uung Sendana


Nabi bersabda, “Dao (道Jalan Suci) itu tidak jauh dari manusia. Bila orang memaksudkan Dao itu ialah hal yang menjauhi manusia, itu bukan Dao.”

Agama Khonghucu, sebagai agama yang diyakini oleh umatnya membimbing manusia untuk membaharui dan membina diri, hidup di dalam Dao (Jalan Suci), yaitu mengikuti Xing (性,Watak Sejati) yang merupakan Firman Tian, Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya dengan tegas mengajarkan agar manusia senantiasa mengendalikan nafsu-nafsunya agar senantiasa harmonis dengan Xing (Watak Sejati). Dalam kehidupannya manusia berkewajiban agar senantiasa hidup selaras dengan Tian Dao (天道,Jalan Suci Tian), Ren Dao (人道,Jalan Suci Manusia) dan Di Dao (地道,Jalan Suci Alam Semesta/Bumi).

Dalam kehidupannya, manusia perlu menyadari akan ke Maha Kuasaan Tian sebagai Prima Causa, ketergantungannya terhadap bumi tempatnya hidup, tetapi manusia juga menyadari peranannya sebagai mahluk yang berakal budi, yang bertanggung jawab atas kehidupannya. Dalam kaitan ini, Jalan Suci seorang umat Khonghucu mencakup hubungan vertikal dengan Tian dan Di dan hubungan horisontal dengan Ren, sesama manusia dan sesama mahluk.

Dalam hubungan vertikal dengan Tian, umat Khonghucu senantiasa dipenuhi iman dalam kesatyaan pada Firmannya. Bila memeriksa diri penuh dengan iman, sesungguhnya tiada kebahagiaan yang lebih dari itu, itulah keyakinan yang dimiliki oleh seorang umat Khonghucu dalam hubungannya dengan Khalik Alam Semesta.

Diyakini Gui Shen (Tuhan Yang Maha Rokh) dilihat tiada nampak, didengar  tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan kanan kiri kita!. Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan, maka sungguhlah jelas sifatNya yang halus itu, tidak dapat disembunyikan dari Iman kita; demikianlah Dia.

Untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewajiban manusia untuk benar-benar menyelami hati, dengan menyelami hati akan mengenal Xing (Watak Sejati), dengan mengenal Watak sejati akan mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Menjaga Hati, merawat Watak sejati, demikianlah mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tentang usia pendek atau panjang, jangan dibimbangkan, siaplah dengan membina diri. Demikianlah menegakkan Firman.

Dalam hubungan dengan Di (bumi), eksplorasi alam tidaklah dilakukan dengan semena-mena, tetapi dilakukan dengan Zhong He. Dalam hal ini dicontohkan oleh Tian Zi Mu Duo, Shengren (Nabi) Kong Zi dengan memanah burung yang sedang terbang dan tidak yang sedang hinggap, juga dianjurkan oleh Mengzi agar dilakukan tepat pada waktunya, bahkan bila kita tidak mengindahkan hal ini, kita dianggap sebagai orang yang Bu Xiao (不孝tidak berbakti). Bagi umat Khonghucu, pernyataan sebagai orang yang Bu Xiao (tidak berbakti) adalah ‘kutukan’ yang benar-benar sangat dihindari.

Adanya kesadaran untuk tidak semena-mena mengeksplorasi alam karena diyakini bencana alam yang terjadi bukanlah semata-mata karena ujian dari Tian, tetapi justeru bahaya yang dibuat sendiri oleh manusia.

Tanpa adanya upaya manusia untuk senantiasa hidup dalam Zhong He中和, isu lingkungan hidup akan menjadi isu yang terus berkembang dan akan menjadi isu ketidak adilan dan lebih jauh akan membahayakan perdamaian. Maka dalam menghadapi isu lingkungan hidup sebagai akibat perilaku manusia yang semena-mena dalam mengeksplorasi alam, manusia hendaknya melakukan interospeksi diri atas adanya keterpautan Tian Di Ren.

Dalam hubungan dengan manusia disabdakan bahwa Dao (Jalan Suci) yang harus ditempuh di dunia ini mempunyai Lima Perkara dengan Tiga Pusaka di dalam menjalankannya, yakni: hubungan pemimpin dengan bawahan, ayah dengan anak, suami dengan isteri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat; Lima Perkara inilah Jalan Suci yang ditempuh di dunia. Zhi (智,Bijaksana/Cerdas), Ren (仁,Cinta Kasih) dan Yong (勇,Berani); Tiga Pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalani haruslah satu tekadnya.

Untuk mendekatkan kita kepada Zhi (Bijaksana/Cerdas) perlu mempunyai sikap suka belajar, untuk mendekatkan kepada Ren (Cinta Kasih) perlu sekuat tenaga melaksanakan tugas, untuk mendekatkan diri kepada Yong (Berani) perlu dipunyai rasa tahu malu.

Kegemaran dalam belajar dan berlatih yang mendekatkan pada Zhi (Bijaksana/Cerdas) merupakan modal dasar bagi bangsa Indonesia untuk bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kegemaran belajar dan berlatih, yang bersifat yin dan yang; saling mengisi, saling melengkapi, bukan saja ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga nilai-nilai etika moral, nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang dapat tegak berdiri dan mengejar ketertinggalan disegala bidang. Orang yang Zhi (Bijaksana/Cerdas) tidak diliputi oleh kebimbangan, tetapi penuh kepercayaan diri melangkah maju menatap masa depan.

Ketulusan untuk kerja keras, pantang menyerah, tulus dan sekuat tenaga melaksanakan tugas yang diemban dalam semua bidang kehidupan merupakan modal dasar yang kedua. Sikap seperti inilah yang mendekatkan kita pada Ren (Cinta Kasih) karena bila seseorang benar-benar mencintai, bagaimana dapat tidak berjerih payah? Sebagai bangsa Indonesia kita bekerja keras karena kecintaan kita kepada keluarga kita, kecintaaan kita pada lingkungan kita, kecintaan kita pada masyarakat kita , kecintaan pada tanah air, kecintaan kita pada kemanusiaan dan kecintaan kita kepada sesama umat Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam mempraktekan Ren (Cinta Kasih) tidak luput dari tiga hal yang sepantasnya dilakukan 1. Tidak melakukan yang tidak ingin orang lain lakukan pada kita (恕,tepasarira), 2. Karena ingin maju, kita memajukan orang lain, karena ingin tegak, menegakkan orang lain. 3. Memperlakukan orang lain dengan contoh yang dekat (diri sendiri).

Ren (Cinta Kasih) berpokok pada laku bakti dan kerendahan hati kita untuk memperlakukan sesama sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang mulia. Dikatakan kerendahan hati membawa berkah, kesombongan mengundang rugi. Orang yang penuh Ren (Cinta Kasih) tidak merasakan susah payah, apa yang dilakukannya dirasakan sebagai suatu kehormatan sebagai seorang manusia ciptaan Tian 天yang termulia.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah adanya Yong (Berani) yang harus dimiliki oleh bangsa kita dalam menghadapi tantangan global. Ketakutan merupakan musuh besar yang mesti dihadapi oleh bangsa kita. Bebas dari ketakutan adalah hal yang mesti diperjuangkan bersama.

Untuk mendekatkan diri pada Yong (Berani) diperlukan rasa tahu malu. Rasa malu itu besar artinya bagi manusia, kalau orang bangga dapat berbuat muslihat dan licin, itulah karena tidak menggunakan rasa malunya.Yang tidak mempunyai rasa malu, tidak layak sebagai manusia, dalam hal apa ia layak sebagai manusia? Orang tidak boleh tidak tahu malu. Malu bila tidak tahu malu, menjadikan orang tidak menanggung malu.

Seorang yang berani tentu saja tidak dirundung oleh ketakutan, apa yang dikerjakan, dikerjakan dengan penuh harga diri, dia tidak keluh gerutu kehadapan Tian dan tidak sesal penyalahan pada sesama manusia. Apa yang dilakukan dengan penuh harga diri, keatas menengadah tidak malu kehadapan Tuhan, ke bawah melihat tidak malu kepada sesama manusia dan lingkungan maka apa yang dilakukannya akan membawa berkah.

Dengan memahami ke Tiga Pusaka itu, niscaya dapat memahami pula bagaimana dapat membina diri, bila telah memahami bagaimana harus membina diri, niscaya dapat memahami pula bagaimana mengatur manusia; bila telah memahami bagaimana cara mengatur manusia, niscaya dapat pula memahami bagaimana harus mengatur dunia, Negara dan rumah tangga.


上網人數

joomla statistics